Selasa, 06 Januari 2015

Yuana Pusparini

Gaya Bahasa dalam Novel Ayat-Ayat Cinta
Karya Habiburrahman El Shirazy


Yuana Pusparini, B.Jerman A
Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak:
Novel Ayat-ayat Cinta ini mendapat sorotan khusus dari para sastrawan-sastrawan bangsa. Bukan hanya dari segi cerita yang menarik tetapi juga dalam hal Majas atau Gaya Bahasa. Bahasa dalam karya sastra mengandung unsur keindahan. Keindahan adalah aspek dari estetika. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Zulfahnur, Gaya bahasa dan penulisan merupakan salah satu unsur yang menarik dalam sebuah bacaan. Setiap penulis mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya penulisan yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan bahwa, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya. Hal ini selaras dengan pendapat Pratikno (1984: 50) bahwa sifat, tabiat atau watak seseorang itu berbeda-beda.
PENDAHULUAN
Kata kunci: Gaya Bahasa (Majas), style
Novel adalah karangan yang panjang dan berbentuk prosa dan mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Penulis handal yang menuai kesuksesan salah satunya adalah Habiburrahman El Shirazy. Beliau telah menciptakan novel yang sangat luar biasa. Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ayat-Ayat Cinta, Diatas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih Ketika Cinta Bertasbih 2 dan Dalam Mihrab Cinta. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih). Dalam novel ini tercurah berbagai ekspresi kehidupan yang berhasil menggugah hati para pembaca khususnya di Indonesia.
Novel ini menceritakan  kisah cinta, tapi bukan kisah cinta sekedar kisah cinta yang biasa, ini tentang bagamana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islami. Fahri Bin Abdullah adalah pelajar dari Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar berurat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Novel ini bertema keagamaan. Dalam novel ini diceritakan sosok Fahri yang sangat menjunjung tinggi agama Islam. Selain itu novel ini menceritakan kisah cinta dimana Fahri harus memilih antara empat wanita yang mencintainya. Namun hal tersebut tidak lepas dari ajaran Islam dan tidak keluar dari ketentuan-ketentuan Islam.
Novel ini memiliki tata kebahasaan yang indah. Penulis novel ini menyisipkan berbagai gaya bahasa yang membuat novel ini gereget. Karya sastra adalah sebuah wacana yang memiliki kekhasan tersendiri. Seorang pengarang dengan kreativitasnya mengekspresikan gagasannya dengan menggunakan bahasa dengan memanfaatkan semua media yang ada dalam bahasa. Gaya berbahasa dan cara pandang seorang pegarang dalam memanfaatkan dan menggunakan bahasa tidak akan sama satu sama lain dan tidak dapat ditiru oleh pengarang lain karena hal ini sudah menjadi bagian dari pribadi seorang pengarang. Kalaupun ada yang meniru pasti akan dapat ditelusuri sejauh mana persamaan atau perbedaan antara karya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat diketahui mana karya yang hanya sebuah jiplakan atau imitasi.
Pemilihan bentuk bahasa yang digunakan pengarang akan berkaitan fungsi dan konteks pemakaiannya. Pemakaian gaya dalam sastra selalu dikaitkan dengan konteks yang melatar belakangi pemilihan dan pemakaian bahasa. Semua gaya bahasa itu berkaitan langsung dengan latar sosial dan kehidupan di mana bahasa itu digunakan.
Melalui gaya bahasa pembaca dapat menilai kepribadian dan kemampuan pengarang, semakin baik gaya bahasa yang digunakan, semakin baik pula penilaian terhadapnya. Sering dikatakan bahwa bahasa adalah pengarang yang terekam dalam karya yang dihaslkannya. Oleh sebab itu setiap pengarang mempunyai gayanya masing-masing.



METODOLIGI
Hakikat Gaya Bahasa dalam karya sastra
Gaya bahasa atau style adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseoarang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu: keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra: cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan ( Hasan dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa juga bermakna cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa (Keraf dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa ini bersifat individu dan dapat juga bersifat kelompok. Gaya bahasa yang bersifat individu disebut idiolek, sedangkan yang bersifat kelompok (masyarakat) disebut dialek. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan watak, dan kemampuan seseorang ataupun masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
Jorgense dan Phillips (dalam Ratna, 2009: 84) mengatakan bahwa gaya bahasa bukan sekedar saluran, tetapi alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial itu sendiri. Lebih jauh menurut Simpson (dalam Ratna, 2009: 84) gaya bahasa baik bagi penulis maupun pembaca berfungsi untuk mengeksplorasi kemampuan bahasa khususnya bahasa yang digunakan. Stilistika dengan demikian memperkaya cara berpikir, cara pemahaman, dan cara perolehan terhadap substansi kultural pada umumnya.
Retorika merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana seorang pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya. Pengungkapan bahasa dalam sastra mencerminkan sikap dan perasaan pengarang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan pembaca. Untuk itu, bentuk pengungkapan bahasa harus efektif dan mampu mendukung gagasan secara tepat yang memiliki segi estetis sebagai sebuah karya. Kekhasan, ketepatan, dan kebaruan pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan yang berasal dari imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam pengungkapan bahasa dan gagasan sangat menentukan keefektifan wacana atau karya yang dihasilkan. Hal ini bisa dikatakan bahwa bahasa akan menentukan nilai kesastraan yang akan diciptakan.

Gaya Bahasa pada Novel Ayat-Ayat Cinta
Gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun. Penulis menggunakan gaya bahasa sebagai berikut:
Gaya Bahasa Klimaks
Gaya bahasa Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat. Gaya bahasa  ini ditemukan dalam novel Ayat Ayat Cinta seperti dalam penggalan teks berikut.
Meskipun   butut,   ini   adalah   tas   bersejarah   yang   setia   menemani diriku  menuntut  ilmu  sejak di Madrasah Aliyah  sampai  saat  ini,  saat menempuh S.2.  di universitas tertua di dunia (Habiburrahman,2000:17).
Pada penggalan teks tersebut terdapat penggunaan gaya bahasa klimaks yang ditandai kelompok kata seperti sejak di Madrasah Aliyah, saat  ini, menempuh S.2.  Urutan pikiran yang makin meningkat berdasarkan kepentingan merupakan bentuk klimaks.
Gaya Bahasa Antiklimaks
Gaya bahasa antiklimaks adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lama semakin menurun. Penggunaan kalimat yang bergaya bahasa antiklimaks. Terdapat pada penggalan teks berikut.
Sahabat  nabi  itu  lalu  meninggalkan  diriku. Semakin  lama  semakin  jauh.  Mengecil.  Menjadi  titik.  Dan  hilang.  Aku  merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah  (Habiburrahman,2000:182)
Pengurutan acuan terdapat dalam penggalan teks tersebut yang diawali dengan urutan yang lebih penting. Kelompok kalimat tersebut seperti,  meninggalkan  diriku, lama  semakin  jauh, mengecil,  menjadi  titik,  dan  hilang.
Gaya Bahasa Paralelisme
Gaya bahasa pararelisme adalah penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris atau kalimat. Dalam novel Ayat Ayat Cinta ditemukan penggalan teks yang berisi  kalimat yang bergaya bahasa paralelisme. Penggalan teks itu ditandai dengan huruf yang bercetak tebal merupakan bentuk gaya bahasa paralelisme. Gaya bahasa dalam novel AAC  terdapat  lima yang ditemukan. Seperti pada penggalan teks di bawah yang ditandai dengan kelompok kata yang menunjukkan keparalelismean.
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan  pasir  menguapkan  bau  neraka
Penggunaan gaya bahasa paralelisme pada penggalan teks tersebut terdapat seakan membara, matahari berpijar. Kata membara sejajar dengan kata berpijar. Sedangkan   lidah api yang menjulur, sejajar dengan menjilat-jilat bumi.
Gaya Bahasa Antitesis
Gaya bahasa antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa antitesis.
 Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar  (Habiburrahman,2000:17)
Kalimat yang bergaya bahasa antitesis terdapat dalam  penggalan teks tersebut. Hal itu ditandai dengan dengan kata hubung namun. Kata namun tercermin bentuk berlawanan, di mana pada bulan Agustus biasanya pengumuman keluar, tetapi ternyata pada hari ini belum ada pengumuman.
Gaya Bahasa Anafora
Gaya bahasa anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berwujud pengulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Hal itu ditemukan dalam novel AAC yaitu penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa anafora.
Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. (Habiburrahman,2000:16)
Pengulangan kelompok kata tak kenal terdapat dalam  penggalan teks tersebut. Kelompok kata itu diulang kembali pada kelimat kedua. 
Gaya Bahasa Epizeuksis
Gaya bahasa epizeukis termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung,  artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Berikut penggalan teks berisi kalimat bergaya bahasa epizeukis yang terdapat dalam novel AAC sebagai berikut:
Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. (Habiburrahman,2000:17) 
Pemakaian gaya bahasa epizeukis dalam penggalan teks (6) berupa penggalan kata satu-satunya yang diulang dua kali. Kata itu dipentingkan dalam kalimat. 
Gaya Bahasa Tautotes
Gaya bahasa Tautotes termasuk dalam kelompok gaya bahasa repetisi. Tautotes adalah bentuk repitisi  atas sepenggalan kata yang berulang-ulang dalam sepenggalan konstruksi. Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat yang bergaya bahasa tautotes.
Dakwah ya dakwah, ibadah ya ibadah. (Habiburrahman,2000:106)
Penggunaan gaya bahasa dalam penggalan teks tersebut terdapat pengulangan dalam satu konstruksi yaitu kata dakwah dan ibadah.
Gaya Bahasa  Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang berisi suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesarkan-besarkan sesuatu hal. Hal itu ditemukan dalam novel AAC  sebagaimana  penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa hiperbola.
Aku  cepat-cepat  melangkah ke  jalan menuju  masjid  untuk  shalat  zhuhur. Panasnya bukan main (Habibirrahman, 2000:29).
Dalam penggalan teks tersebut terdapat kelompok kata bukan main, yang terkandung maksud bahwa pada saat zhuhur terlalu panas dan tidak dapat ditentukan berapa derajat suhunya. Kelompok kata itu merupakan pembentuk gaya bahasa hiperbola.
Gaya Bahasa personifikasi
Dalam novel AAC ditemukan penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa personifikasi.
Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. (Habibirrahman. 2000:15)
Gaya bahasa personifikasi terdapat dalam penggalan teks tersebut adalah lidah api  yang seolah-olah berperilaku seperti manusia (bernyawa) yakni menjulur dan menjilat-jilat.   Hal yang dipaparkan dalam penggalan teks itu menandaskan bahwa lidah api atau sinar matahari yang bersinar ke bumi.
Gaya Bahasa  Sarkasme
Hal itu ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme dalam novel AAC.  Berikut ini penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa sarkasme.
 Ayolah khoemeini benar Amerika itu setan! Setan harus dibunuh (Habiburrahman, 2000:48)
Gaya bahasa sarkasme yang terdapat dalam penggalan teks tersebut adalah Amerika itu setan! Setan harus dibunuh. Ungkapan itu dipaparkan bentuk makian kepada  negara Amerika.
Gaya Bahasa  Metafora
Gaya bahasa metafora adalah gaya  bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung yang memiliki sifat yang sama, tetapi dalam bentuk singkat. Hal itu ditemuakn penggalan teks yang  berisi kalimat bergaya bahasa metafora dalam novel AAC. Berikut penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa metafora.
Matahari berpijar di tengah petala langit. (Habiburrahman, 2000:15)
Pada penggalan teks tersebut terdapat ungkapan petala langit  yang berarti tingkatan langit yang paling tinggi sehingga kedudukan matahari disamakan dengan petala langit yang tingkatnya tinggi dan jauh.
Gaya Bahasa Perumpamaan atau Smile
Dalam novel AAC  ditemukan penggalan teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpaman/simile. Berikut penggalan  teks yang berisi kalimat bergaya bahasa perumpamaan/simile.
Tengah  hari ini Kota Cairo seakan membara  (Habiburrahman, 2000:15).
                 Dalam penggalan teks tersebut terdapar gaya bahasa  perumpamaan/simile. Hal ini ditandai dengan adanya kata hubung seakan.  Kata seakan  adalah ciri dari gaya bahasa ini.




ANALISIS HASIL DATA
Fungsi dan Tujuan Gaya Bahasa (Majas, Style)
Dalam novel Ayat-Ayat Cinta ini banyak terdapat berbagai macam gaya bahasa. Pengarang menyisipkan gaya bahasa ini bukan hanya sekedar agar karya terlihat bagus. Tetapi ada fungsi dan tujuan dari gaya bahasa tersebut. Gaya bahasa berfungsi meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minat pembaca/pendengar untuk mengikuti apa yang disampaikan pengarang/pembicara. Yang kedua yaitu mempengaruhi atau meyakinkan pembaca/pendengar, artinya dapat membuat pembaca semakin yakin dan mantap terhadap apa yang disampaikan pengarang/pembicara. Yang ketiga yaitu menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, artinya dapat membawa pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, seperti kesan baik atau buruk, perasaan senang atau tidak senang, benci, dan sebagainya setelah menangkap apa yang dikemukakan pengarang. Adapun tujuannya yaitu memperkuat efek terhadap gagasan, yakni dapat membuat pembaca terkesan oleh gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya. Seperti pada saat pengarang menceritakan saat-saat menegangkan, menyenangkan atau menegaskan berbagai situasi.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulissastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan  bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. 

SIMPULAN
Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah novel yang penuh ekspresi dan mempunyai nilai pendidikan yang tinggi khususnya pendidikan beragama. Novel religi ini berhasil menghipnotis para pembaca. Nilai etika dan moral tidak lepas dari isi novel ini. Novel yang berjumlah 491 halaman ini pun dibuat film yang tidak kalah seru dari novelnya. Pada novel ini Habirurrahman El Shirazy atau sering disapa kang Abik mencurahkan ekspresi, perasaan dan gagasan-gagasan melalui berbagai macam gaya bahasa sehingga novel ini tidak ngambang dan tidak bosan dibaca.

REFERENSI
Abdul Somad, Adi (dkk). 2008. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Bandung: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Aziz, Firman (dkk). 2014. Taktis Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Bandung: Penerbit Asas UPI
El-Shirazy, Habiburrahman. 2000. Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Basmala Republika.
Khoir, Mazidatul. 2012. Gaya Bahasa dalam Karya Sastra. Tersedia di link http://mazidatulkhoir.wordpress.com/2012/10/07/gaya-bahasa-dalam-karya-sastra/. Diunduh pada tanggal 02 Januari 2015.

Wendi Wildani

Menyelamatkan Bahasa Daerah melalui Jejaring Sosial
Wendi Wildani
Pendidikan Bahasa Jerman
Universitas Pendidikan Indonesia


1. Abstrak
Tidak ada yang dapat menyangkal, bahasa memiliki peran yang sangat penting. Bahasa menjadi alat yang paling efektif`dalam setiap aktivitas komunikasi. Setiap manusia memerlukan bahasa agar dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Dalam pemakaiannya,bahasa menjadi sangat beragam. Keragaman bahasa sangat bergantung pada kebutuhan dan tujuan komunikasi. Bahasa dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Seiring majunya peradaban manusia, termasuk di Indonesia, banyak cara yang dipilih pemakai bahasa dalam berkomunikasi. Bahkan pilihan cara komunikasi tidak hanya makin beragam tapi juga semakin canggih. Salah satu komunikasi yang paling pesat saat ini adalah penggunaan bahasa yang didukung oleh perangkat teknologi mutakhir, khususnya bahasa yang digunakan pada dunia maya dan jejaring sosial,salah satu contohnya seperti internet, dan facebook.

Kata Kunci : Bahasa, internet, komunikasi, Bahasa daerah.

2. Pendahuluan
Loyalitas-bahasa penutur bahasa daerah terhadap bahasanya mengalami penurunan, terutama pada ranah keluarga. Padahal, dari keluargalah, terutama, anak memperoleh bahasa itu. Kondisi ini perlu diatasi. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan upaya melalui pengajaran. Alternatif pertama, terutama dari TK sampai dengan kelas III SD, bahasa daerah perlu dijadikan bahasa pengantar pembelajaran. Di samping itu, sebagai alternatif kedua, di dalam pengajaran bahasa daerah itu sendiri, perlu diterapkan pendekatan komunikatif. Melalui salah satu atau kedua cara itu, akan tercipta lingkungan baru penggunaan bahasa daerah sebagai pelengkap atau pengganti lingkungan penggunaan bahasa daerah pada ranah keluarga. Lingkungan baru inilah yang akan menciptakan input untuk anak maupun mendorong terciptanya out put dari anak yang keduanya diperlukan bagi terjadinya pemerolehan bahasa daerah.

3. Bahan Dan Metode
Dalam jurnal ini penulis menggunakan bahan jurnal berbagai website di internet. Metode yang digunakan boleh penulis yaitu metode studi pustaka. Dimana penulis membaca bahan yang Ada.

4. Hasil
Dari sudut penulis setelah membaca berbagai sumber,bahwa penutur bahasa daerah kian hari kian menurun. Lebih banyak menggunakan bahasa asing maupun bahasa Indonesia. Begitu pun dalam dunia maya maupun jejaring sosial. Mereka lebih asyik dan bangga menggunakan bahasa asing ketika membuat status di Facebook atau pengaturan bahasa di media sosialnya berbahasa asing. Padahal ada media sosial yang pengaturan bahasanya bisa diganti menjadi bahasa daerah,seperti jadi bahasa Jawa, bahasa Sunda. Contohnya Facebook dan Google,bahkan di era sekarang ini ada mesin penerjemah dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah ataupun sebaliknya,jadi bagi mereka yang yang tidak mengetahui artinya bisa tahu. Walaupun hanya baru ada 2 bahasa yang tersedia,tapi ini bisa menjadi salah satu aspek untuk memelihara bahasa daerah. Apalagi di tengah 
kemunculan fenomena bahasa alay yang makin merasuk dikalangan remaja. Dukungan kecanggihan teknologi telah menjadikan bahasa dalam segala bentuknya mengalami kemajuan varian yang sangat pesat. Bagaimana tidak? Fakta bahwa pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2012 ini telah mencapai 63 juta orang (Okezone,12 Desember 2012) atau naik 300% dalam 5 tahun terakhir. Kondisi ini diperkuat dengan adanya 29 juta orang meng-akses internet secara mobile sebagai tanda tingkat produktivitas pemakaian bahasa pemakainya. Proyeksi ini akan terus berkembang hingga mencapai 80 juta orang pada tahun 2014. Disisi lain, data Kominfo April 2012 menyebutkan jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia juga sangat besar. Setidaknya tercatat sebanyak 44,6 juta pengguna Facebook dan sebanyak 19,5 juta pengguna Twitter di Indonesia. Kondisi ini bertolak belakang dengan kenyataan adanya 15 bahasa daerah yang sudah punah dan 139 bahasa daerah yang terancam punah dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

5. Pembahasan
 Bahasa daerah adalah salah satu aset penting bangsa Indonesia. Karena bahasa daerah
merupakan salah satu kebudayaan dan aset yang mesti kita jaga dan lestarikan. Walaupun tetap bahasa persatuan kita adalah Bahasa Indonesia yang membantu berbagai suku di Indonesia untuk
berkomunikasi secara baik. Namun Bahasa daerah hari ini menghadapi tantangan yang beratseiring intervensi dan realitas penggunaan bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial. Apalagi bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial semakin mendapat tempat di kalangan anak muda. Sebut saja, fenomenabahasa alay yang benar-benar sudah menjadi bahasa favorit mereka daripada Bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena anak muda sekarang membutuhkan pengakuan akan eksistensi mereka.Mereka hampir tidak punya ruang untuk mewujudkan eksistensi mereka.

6. Kesimpulan
Bahasa pada dumia maya dan jejaring yang semakin marak merupakan realitas akibat dinamika peradaban manusia.Bahasa dunia maya dan jejaring sosial merupakan pola bahasa peralihan dari bahasa lisan kebahasa tulisan.Tidak ada yang salah dalam bahasa dunia maya karena dinamika peradaban manusia,budaya, dan lingkungan/demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang. Dunia maya dan jejaring sosial akan menjadi ancaman apabila penggunaannya yang marak mulai merambah pada aktivitas berbahasa formal, baik lisan maupun tulisan. pemakai bahasa daerah harus aktif dalam menggunakan bahasa daerah dan tidak menjadikan
Bahasa daerah sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja.

7. Daftar Pustaka
Kompasiana, Kompas.
Yunus,Syarifudin. (Desember 2012) Bahasa Indonesia Pada Dunia Maya &
Jejaring Sosial; Ancaman atau Peluang? : Kompasiana.
Sutarma, I Made. MENYELAMATKAN BAHASA DAERAH

MELALUI PENGAJARAN

Senin, 05 Januari 2015

Aji Dwinurhadi

PILIHAN BERBAHASA PADA MASYARAKAT DWIBAHASA
AJI DWINURHADI
PENDIDIKAN BAHASA JERMAN, FPBS, UNIVERSITAS PENDIDIDKAN INDONESIA

ABSTRAK
Dikalangan masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa,alih kode dan campur kode hal yang sangat biasa. Hal ini dilaksanakan bila pembicara memiliki alasan yang cukup kuat untuk beralih dari satu bahasa ke bahasa lain. Alasan itu antara lain, pembicara perlu memberi komentar, sebagian pendengar perlu penjelasan dalam bahasa tertentu, atau karena pergantian suasan batin.
Interaksi yang melibatkan keanekaragaman bahsa sering mengakibatkan adanya pemilihan bahasa yang akan digunakan. Proses menentukan bahasa mana yang akan digunakan pada peristiwa komunikasi tidak selalu mencapai kesepakatan. Kadang-kadang kedua pembicara bertahan dengan masing-masing bahasanya yang digunakan , yang paling penting bahasa tersebut mudah dipahami dan dimengerti oleh mereka. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.

1.     Pendahuluan
Bahasa merupakan kode yang paling tepat digunakan dalam tindak komunikasi. Ia memainkan peranan yang sangat penting dan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa bahasa kehidupan manusia tidak akan bermakna sama sekali. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dengan latar belakang yang berbeda dalam tindak berkomunikasi sering kita jumpai adanya pergantian pemikiran bahasa.

2.     Alih Kode dan Campur Kode
Alih kode dan campur kode adalah hal yang biasa di kalangan masyarakat dwibahasa atau dikalangan yang menguasai bahasa lebih dari satu.
Alih kode biasanya terjadi apabila pembicara memiliki alasan untuk beralih dari bahsa satu ke bahasa lain. Alasan itu antara lain, pembicaramerasa perlu memberikan komentar atau sebagian pendengar perlu oenjelasan tertentu untuk memahami apa yang dibicarakan
Campur kode. Peralihan ini biasanya hanya satu kalimat. Misalnya seseoramg yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia sesekali diselingi oleh bahasa Sunda ataupun lainnya.



3.     Masyarakat Dwibahasa dan Dwibahasawan Perorangan
Dalam suatu masyarakat yang terdiri atas kelompok etnik yang masing-masing memiliki bahsa dan budaya antara yang satu dengan yang lain, para anggota masyarakat itu akan saling belajar bahasa dan budaya kelompok masyarakatnya disamping menguasai bahasa dan budayanya sendiri.
Diamping masyarakat dwibahasa ada juga anggota masyarakat yang secara individu menguasai lebih dari satu bahasa. Individu seperti itu disebut dwibahasawan. Tingkat penguasaan bahasa yang ssatu boleh berbeda dengan yang lainnya. Di Indonesia misalnya, seorang guru bahasa Inggris seharusnya mampu menguasai bahasa Inggris, tetapi tetap saja tidak sesempurna penutur aslinya dari London.
Belajar bahasa bukanlah hal yang mudah,karena memerlukan ketekunan, kesabaran, keuletan, dan juga sedikit bakat. Oleh karena itu bila seseorang dapt menguasai lebih dari satu bahasa tentu ia memiliki sifat-sifat yang baik itu lebih daripada seseorang yang hanya menguasai satu bahasa saja.



4.     Proses Komunikasi Interpersonal
Dalam komunikasi sosial, interaksi yang melibatkan keanekaragaman sering mengakibatkan adanya pemilihan bahasa yang akan digunakan. Kadang-kadang komunikasi juga dihadapkan pada distribusi bahasa, perbedaan dialek dan masalah-masalah lain yang timbul akibat adanya interaksi antar individu. Jika demikaian secara tidak disadari akan timbul kespakatan bahsa yang digunakan dalam berbicara.



5.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pemilihan Bahasa dalam Komunikasi
Dalam proses ilihan berbahasa dalam komunikasi dipengaruhi dua faktor, yakni umum dan faktor khusus. Secara umum faktor yang paling berpengaruh adalah lamanya serta kebersamaan.
Faktor-faktor khusus juga berpengaruh terhadap tercapainya interaksi bahasa. Faktor-faktor tersebut diantaranya ialah situasi, lokasi, topik, pembicaraan, dan bahasa yang digunakan masyarakat tersebut



6.     Penutup
Proses pemilihan berbahasa dalam komunikasi pada dasarnya berhubungan langsung dengan peristiwa hubungan interpesonal. Dalam hubungan interpersonal mencakup tiga tahap yakni, pembentukan hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Proses ini juga banyak dipengaruhi faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa berbicara antara alin, faktor khusus dan faktor umum








DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Totok Wahyu. 1996. “Interaksi Komunikasi dalam Negosiasi Pilihan Berbahasa pada Masyarakat”. Prasasti. Surabaya.

Pateda, Mansur. 1987. Sosiolinguistik. Bandung : Penerbit Angkasa

Rahmat. Jalaludin. 1992. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya


Izrima Al Awalia

NILAI RELIGIUS DALAM PUISI KARYA AMIR HAMZAH
IZRIMA AL AWALIA
1404925
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JERMAN
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstrak
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan: tema dari beberapa puisi karya Tengku Amir Hamzah, menilik diksi yang digunakan oleh Amir Hamzah dalam beberpa puisinya, dan mengkaji makna yang hendak disampaikan oleh sang Raja Penyair Pujangga Baru ini. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka. Sumber data adalah data objektif berupa dokumen kumpulan puisi karya asli Amir Hamzah. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara menganalisis dan mengkaji dokumen. Hasil penelitian: 1.) Mayoritas puisi karya Amir Hamzah bertemakan religius, 2.) Kata “kekasih dan sayang” merupakan kata yang dipilih oleh Amir Hamzah untuk menyebut Tuhan dalam puisinya, dan 3.) Makna dari rata-rata puisi karya Amir Hamzah adalah memuji atau mengingat Tuhan.
Kata kunci: Religius

Pendahuluan
Sebuah puisi pastilah mamiliki makna yang ingin disampaikan pengarangnya. Disamping itu setiap puisi pastilah dijiwai oleh sebuah tema dan corak yang biasanya menjadi karakter atau ciri khas dalam karya seorang penyair. Tak berbeda pula dengan  karya Amir Hamzah. Untuk mendalami karyanya tersebut dilakukanlah penelitian ini dengan mengkaji: 1) Apakah tema atau corak dari puisi Amir Hamzah, 2) Diksi apakah yang dipilih olehnya dalam menyampaikan Tuhan dalam puisinya tersebut, dan 3) Apa yang ingin disampaikan oleh Amir Hamzah melalui puisinya. Setelah perumusan masalah dalam kajian penelitian ini adapun hal yang ingin dituju adalah: 1) Mengetahui tema atau corak dari puisi karya Amir Hamzah, 2) Meninjau diksi yang sering digunakan dalam penyebutan Tuhan di dalam puisi Amir Hamzah, dan 3) Mengkaji makna yang tersirat di dalamnya.

Pembahasan
            Setiap penyair pasti memiliki ciri tersendiri dalam karyanya. Entah itu melauli gaya penulisan, tema yang diangkat, corak yang membingkai karya tersebut, ataupun pemilihan kata yang digunakan olehnya. Tak beda pula dengan Amir Hamzah (nama lengkap: Tengku Amir Hamzah) seorang raja penyair era pujangga baru. Karyanya memiliki ciri khas pada tema yang menjiwainya, yaitu bertemankan religius atau ketuhanan. Amir Hamzah selalu memuji tuhan melalui karyanya yang menunjukan betapa ia sangat mencintai Tuhannya. Hal ini digambarkan melalui diksi dan imaji yang digunakannya. Hampir disetiap puisinya dia memilih untuk menggunakan kata “kekasih” dan “sayang” sebagai kata ganti penyebutan Tuhan selain kata Kau dan Mu. Contohnya dalam puisi-puisinya yang berjudul: “Padamu Jua”, “Hanya Satu”, “Permainanmu”, “Doa”, “Hanyut Aku”, “Terbuka Bunga”, “Taman Dunia”, dan “Karena Kasihmu”.
Sebagai contoh: Hanya Satu oleh Amir Hamzah
              Aduh kekasihku
                          Padaku semua tiada berguna
                          Merasa dikau dekat rapat
                          Serupa Musi di puncak Tursina
            Selain melaui penggunaan diksi tersebut, imaji yang diciptakan oleh Amir Hamzah pun sangat kental dengan rasa kecintaan dan kecintaan kepada Tuhan sebagai wujud mengingat Tuhan bagaikan ia berdzikir dalam puisinya. Begitulah cara Amir Hamzah untuk mengingat-Nya, dengan penyampaian kata-kata yang indah melalui sair-sairnya. Kata-kata yang digunakannya berhasil mewujudkan imaji yang kuat membuat pembacanya turut merasakan kerinduan dan dapat meningkatkan  kencintaan terhadap-Nya. Susunan kata-kata tersebut dapat mengungkapkan pengalaman indrawi yang mampu dirasakan oleh pembaca. Salah satu contoh puisinya yang memiliki imaji yang kuat adalah puisi do’a:
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menanyang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu

Dalam puisi tersebut membuat pembaca seolah benar-benar merasakan seperti apa yang dialami pada puisi tersebut. Bagaimana ketenangan dan keindahan yang tak bisa dibandingkan saat kita bertemu dengan-Nya. Dalam kehidupan nyata pun aspek dalam puisi tersebut benar terbukti adanya, seperti saat kita dalam kekhusuan meghadap-Nya (waktu menunaikan salat) kita bisa merasakan ketenangan. Puisi-puisi karyanya benar-benar memiliki makna tersirat yang mendalam soal islam. Nilai religius dalam Puisinya begitu kuat. Begitulah Amir Hamzah menggambarkan pengalamannya dalam menyembah Allah.

Penutup
            Dapat disimpulkan tema yang diangkat oleh Amir Hamzah dalam setiap puisinya tak luput dari unsur religi yang kental. Dengan gaya penuturan melayu dan diksi yang tepat serta penyusunan kata yang baik mampu menciptakan imaji yang kuat. Melalui puisinya kita bisa mengetahui bahwa inilah cara Amir Hamzah mengingat-Nya, kita dapat melihat betapa cintanya Amir Hamzah kepada Tuhannya.
            Penelitian ini hanya mengacu pada hasil analisis yang saya lakukan. Dengan demikian saya rasa masih banyak yang perlu saya perbaiki, maka dari itu saran akan sangat membantu penelitian saya yang selanjutnya.
Daftar Pustaka
Aziz, Firman dkk. 2014. Taktis Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Bandung: Asas UPI
Putrayasa, Ida Bagus. 2010. Kajian Morfologi. Bandung: Refika Aditama
Grafik, Muhamad. 2012. Teori Sastra (Kajian Teori dan Praktik). Bandung: Refika Aditama
Rahardi, R. Kunjana. 2010. Teknik-teknik Pengembangan Paragraf Karya Tulis Ilmiah. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.


Shafyra Hanum

PENGENALAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR SEJAK USIA BALITA

Nama : Shafyra Hanum
NIM : 1403239
Jurusan/Kelas : Pendidikan Bahasa Jerman/1A


ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji beberapa metode pengenalan Bahasa Indonesia secara baik dan benar sejak usia balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan Bahasa Indonesia yang baik dan sesuai ejaan serta pengucapan dan pelafalan bahasa yang harus diajarkan sejak balita atau sejak dini. Peranan orangtua, keluarga, dan lingkungan terdekat sangatlah berpengaruh.
Seiring berjalannya waktu, Bahasa Indonesia semakin meluas dengan kosakata dan pengucapan yang terkadang tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang benar. Penelitian dilaksanakan pada lingkungan keluarga dan masyarakat umum, serta sudah menggunakan metode dengan daftar pertanyaan dan data yang didapat. Lalu dianalisa dengan metode analasisis pendekatan dengan subjek yang dimaksud yaitu balita dan anak diatas umur satu tahun yang sudah mulai bisa berbicara.
Kata Kunci : Penelitian, pengucapan dan pelafalan bahasa, peranan orangtua, keluarga dan lingkungan orang terdekat.

PENDAHULUAN
Teori yang sudah didapatkan dan dihadapkan tentang pengenalan Bahasa Indonesia sejak dini atau balita telah banyak diserap dan diketahui tentunya oleh para orangtua dan orang sekitar. Para balita seharusnya mengetahui bahasa-bahasa yang benar dan tepat dalam setiap pengucapannya melalui bimbingan dari orangtua. Tidak ada salahnya mengenalkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak dini. Apalagi sekarang dengan berkembangnya jaman, Bahasa Indonesia sepertinya kurang mendapat tempat. Jika dilihat tulisan-tulisan di pinggir jalan, banyak sekali spanduk, baliho, plakat yang bertuliskan ‘’Kursus Bahasa Inggris’’, ‘’Kursus Bahasa Korea’’, dan lain-lain. Mengapa jarang sekali ditemukan spanduk bertuliskan ‘’Menerima Kursus Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar’’. Malah ada yang beranggapan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang tidak perlu dipelajari lebih dalam karena sudah merupakan bawaan dari lahir.
Usia balita merupakan masa peka untuk belajar. Anak mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyerap aneka rangsangan dari luar, termasuk rangsangan bahasa. Tetapi di sisi  lain ia sedang dalam masa bermain dan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang lain seperti emosi dan social. Sebagai dasar untuk pengembangan pada anak usia balita harus melalui rasa senang, bebas, dan aman secara psikologis. Dengan demikian anak dapat mengembangkan dirinya secara optimal.

METODE PENELITIAN
Dalam penelitian tentang pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia balita ini saya menggunakan metode naturalistik. Karena dalam prosesnya saya langsung mengamati dan mengenalkan Bahasa Indonesia kepada beberapa balita di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar rumah.
Pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak balita dapat dilakukan dalam keseharian para orangtua atau lingkungan pada saat berinteraksi dengannya, misalnya kita bisa memulai dengan memperkenalkan warna favorit dengan bahasa Indonesia, nama-nama benda sekitar dan hal-hal yang banyak berhubungan dengannya atau yang menjadi ketertarikannya.

HASIL PENELITIAN
Hasil dari penelitian yang saya lakukan akhirnya mendapatkan beberapa metode pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia balita. Hal ini memang memerlukan banyak peran orangtua dan orang sekitar si balita itu sendiri. Tidak dipungkiri, sedikit saja salah dalam pengucapan, si balita bisa saja mengingatnya dan mengikutinya sampai dia tumbuh nanti. Diperlukan sekali ketelitian dalam proses pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia balita.

PEMBAHASAN
Pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia balita memiliki berbagai cara yang dapat dilakukan. Para orangtua dan lingkungan sekitar yang memiliki balita bisa memperdengarkan lagu anak-anak, tanpa disadari sambil bernyanyi anak balita akan memperlancar pengucapannya dan membentuk pola berpikir bahwa belajar bisa juga dengan cara yang menyenangkan.
Cara lainnya yaitu dengan media flashcard yang berupa gambar dengan warna-warna menarik untuk memperkenalkan nama, warna, bentuk dan jumlah benda. Para orangtua juga bisa memanfaatkan majalah, kalender bahkan brosur dari supermarket yang cukup menarik untuk dijadikan flashcard buatan sendiri dengan menuliskan kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Cara ini juga bisa dimanfaatkan untuk proses pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Untuk para orangtua juga bisa membacakan balitanya dengan cerita bergambar menarik, dengan memilih topik yang disukai serta pilihkan buku cerita dengan kalimat sederhana dan informatif, mengingat pada masa balita anak-anak baru bisa memahami kalimat singkat dan sederhana dalam Bahasa Indonesia.
Orang yang terdekat seperti misalnya orangtua dari balita harus memanfaatkan setiap momen bersama mereka dengan sebaik-baiknya. Para orangtua dan lingkungan harus jeli memanfaatkan kegiatan apa saja untuk menyelipkan satu atau dua kata dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, misalnya ketika berenang diakhir pekan, yang menjadi kegiatan kesukaannya, lalu memperkenalkan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti bertanya : apakah kamu suka berenang? kolam renangnya sangat besar. Ada banyak orang di kolam renang ini. Dengan begitu tanpa disadari para balita akan mengenal banyak kata-kata yang baik dan benar dalam Bahasa Indonesia.
Dalam kegiatan sehari-hari juga dapat menggunakan bahasa tubuh dalam membantu komunikasi dengan si balita. Hal ini diperlukan dalam masa-masa awal pengenalan kata baru sehingga si balita akan mendapat petunjuk mengenai hal-hal yang dimaksudkan. Seperti misalnya orangtua bertanya : ‘‘apakah kamu ingin makan?’’ sambil menggerakkan tangan seolah-olah anda akan makan, lalu si balita akan menangkap maksud anda dan rangsanglah si balita untuk menjawab dengan jawaban iya atau tidak bukan dengan mengangguk atau menggeleng.
Jangan lupa juga untuk memperkenalkan tiga kata yang sangat bermanfaat untuk membentuk kepribadian si balita yaitu terima kasih, permisi, dan maaf. Mengapa sangat diperlukan? Karena jika para orangtua menerapkan tiga kata ini dalam keseharian maka tidak hanya mengenalkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tetapi juga akan membentuk pribadi yang bersyukur, santun, dan berjiwa sportif.
Selanjutnya pengenalan juga bisa dilakukan dengan menjadi contoh yang baik bagi si balita. Sebagai orangtua atau orang terdekat si balita, diharuskan untuk menjadi contoh yang baik. Jangan pernah  mengucapkan sebuah kata dengan pengucapan yang salah karena bisa jadi si balita akan mengikuti kata yang salah tersebut. Bangun kepercayaan diri si  balita, sebagai orangtua dan orang sekitar harus berperan sebagai pemandu bahasanya, bisa dengan memandu apa yang akan diucapkan si balita dan si balita akan mengikuti apa yang diucapkan setelahnya. Dengan cara ini si balita akan merasa percaya diri untuk berkata-kata dalam Bahasa Indonesia yang yang baik dan benar karena orangtua akan selalu memandunya menemukan kata yang tepat hingga akhirnya si balita bisa dengan sendirinya mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang dipilihnya.

KESIMPULAN
Kembali lagi pada cara-cara pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia balita berhubungan kembali pada bagian pendahuluan. Bahwa intinya dalam proses pengenalan dibutuhkan sekali keseriusan orangtua dan orang sekitar dalam membimbing si balita. Di dalam prosesnya itu juga si balita tidak boleh berada dalam tekanan, proses pengenalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ini juga tentu saja sangat bisa dilakukan dengan sambil bersenang-senang sehingga si balita merasa nyaman dan benar-benar menyerap tujuan utama yaitu mengenalkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Firman.(2014).Praktis Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Bandung:Asasupi
Ari, Ira.(tt).Kehidupan Sehari-hari.Wordpress.
Badudu, J.S.(1985).Cakrawala Bahasa Indonesia I.Jakarta:Gramedia.
[Majalah].(2003).Peranan Buku DalamPerkembangan Anak.Visi Pustaka.
Charlie, Lie.(1999).Bahasa Indonesia yang Baik.Jakarta:Gramedia Pustaka.
Sugono, Dendy.(2009).Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar.Jakarta:Gramedia.

Maryam Afifah Asriandi

Menganalisis Pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda di dalam Beberapa Keluarga dan Kehidupan Sehari-hari

Maryam Afifah Asriandi (1400302)
Pendidikan Bahasa Jerman
Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Negara Indonesia, yang dimana penduduk asli Indonesia dapat berbicara bahasa Indonesia. Sedangkan, bahasa Sunda adalah bahasa daerah wilayah Jawa Barat, yang dimana bahasa tersebut dipakai dalam kehidupan sehari-hari bahkan didalam sebuah kelurga. Pada jurnal ini akan membahas tentang “Menganalisi Pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda didalam Beberapa Keluarga dan Kehidupan Sehari-hari”. Metode penelitian ini adalah dengan cara melakukan penyebaran angket dan analisis dokumen. Ketertarikan pemakaian bahasa Indonesia dikehidupan sehari-hari dan didalam keluarga lebih sedikit daripada yang memakai bahasa Sunda.
Kata Kunci : Bahasa Indonesia dan Sunda, pemakaian, ketertarikan

PENDAHULUAN
Bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem tersebut. Kajian ilmiah terhadap bahasa disebut dengan linguistik. Didalam suatu Negara memiliki terdapat beberapa ragam bahasa, contohnya di Negara Indonesia. Di Negara Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah, bahasa daerahpun ditentukan oleh daerahnya sendiri. Namun, Indonesia juga memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tersebut dipakai oleh seseorang untuk berkomunikasi antar daerah ataupun dikehidupan sehari-hari dan tidak menutup kemungkinan juga apabila seseorang memakai bahasa daerahnya sendiri didalam kehidupan sehari-hari ataupun didalam suatu keluarga.
METODE PENELITIAN
Saya melakukan metode penelitian dengan cara menyebar angket ke sepuluh orang mahasiswa dikelas Pendidikan Bahasa Jerman 1A Universitas Pendidikan Indonesia dan saya juga melakukan analisis dokumen.

HASIL PENELITIAN
Setelah melakukan penelitian melalui sebar angket, hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa yang memakai bahasa Sunda dikeluarganya atau dikehidupan sehari-harinya lebih banyak daripada yang memakai bahasa Indonesia, alasannya karena memang banyak yang dari kecilnya dan memang dilingkungan sekitarnya lebih sering memakai bahasa Sunda dan bahasa Sunda tersebut sudah diajarkan oleh para orang tuanya dari kecil sehingga mereka lebih sering memakai bahasa Sunda. Beberapa dari merekapun tertarik sekali dengan bahasa Sunda karena itu bahasa warisan dari turun temurun jadi mereka ingin sekali membudayakan warisan turun temurun itu. Namun, mereka tidak ingin di Negara ini memakai bahasa Sunda sebagai bahasa persatuan karena sudah ada dari dulu bahwa bahasa persatuan Negara ini adalah bahasa Indonesia.
Sedangkan yang memakai bahasa Indonesia dikeluarganya atau dikehidupan sehari-harinya lebih sedikit daripada yang memakai bahasa Sunda, alasannya karena mereka sudah dibiasakan dari kecilnya berkomunikasi memakai bahasa daerah jadi mereka sudah terbiasanya memakai bahasa tersebut. Dan beberapa dari merekapun tertarik dengan bahasan Indonesia karena bahasanya mudah dan ingin menguasai bahasa tersebut.

PEMBAHASAN
Adapun tips agar bisa mahir dalam bahasa Sunda, yaitu:
1.      Banyak bergaul dengan orang sunda
Jadi, secara tidak langsung kita akan terbawa dengan bahasa yang mereka bawakan dan jangan malu untuk bertanya bila anda tidak tahu arti dari suatu kata atau kalimat saat lawan bicara anda berbahasa sunda.
2.      Praktek langsung
Tidak usah malu-malu dalam berbicara bahasa sunda, jangan takut salah karena dari kesalahan itulah kita tahu mana yang benar. Mungkin untuk pertama kalinya kita ditertawakan tapi tak apa-apa dan nanti juga kita akan terbiasa dalam berbicara bahasa sunda.



3.      Baca buku dan referensi tentang bahasa Sunda
Cara ini bukan yang paling ampuh, karena untuk belajar suatu bahasa diperlukan praktek langsung dengan lawan bicara, namun dengan semakin banyak wawaasan kita tentang bahasa sunda baik kosakata kita bisa meningkat.
4.      Dengerin lagu berbahasa Sunda
Nah, dengan kita mendengarkan lagu-lagu sunda yang liriknya mendayu-dayu dan enak didengar. Coba anda pahami maksud dan arti kata perkata, lama-lama anda akan biasa dan akan memahami lagu tersebut.
5.      Carilah pasangan yang berasal dari Sunda
Dari berbagai tips diatas, cara inilah yang paling ampuh, karena apabila kita mempunyai pasangan orang sunda secara tidak langsung anda akan terbawa berbicara bahasa sunda, karena tiap harinya anda akan mendengar pembicaraan pasangan anda yang memakai bahasa sunda.

KESIMPULAN
Saya dapat menyimpulkan bahwa orang sunda pun tidak semuanya berbicara bahasa sunda dalam keluarganya ataupun dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, lebih banyak dari mereka berbicara bahasa sunda dikarenakan memang sudah dari kecil dan sudah turun temurun bahasa sunda itu digunakan dilingkungan sekitarnya. Adapun yang memakai bahasa Indonesia dikeluarganya ataupun dikehidupan sehari-harinya tapi itu lebih sedikit daripada yang memakai bahasa sunda.

SARAN
Jika anda ingin bisa mahir dalam bahasa sunda, coba gunakan tips yang telah ada diatas, siapa tau jika anda menggunakan tips diatas anda yang asalnya tidak berbicara bahasa sunda jadi senang dan ingin sekali memakai bahasa sunda.






DAFTAR PUSTAKA
Komaruzaman,Relly.2014.[Online].”Pengertian Bahasa”.http://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa diakses tanggal 04-01-2015
Herani,Nopyanti.2011.[Online].”Contoh Jurnal Abstrak”.https://paul02583.wordpress.com/category/jurnal/abstrak-jurnal/ diakses tanggal 04-01-2015
2013.[Online].”5 Tips Agar Cepat Menguasai Bahasa Sunda”.http://kamus-sunda.com/blog/2013/07/5-tips-agar-cepat-menguasai-bahasa-sunda/#.VKj4EHP-JAg diakses tanggal 04-01-2014
Aziz,Firman dkk.2014.Taktis Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Bandung:Asas UPI
Taufiq,Rahmat dkk.2005.PEPERENAN URANG SUNDA.Bandung:Kiblat Buku Utama
Zulela.2012.Pembelajaran Bahasa Indonesia.Bandung:PT Remaja Rosdakarya